Minggu, 20 Desember 2015

Bosan Dalam Fiksi



Roland Barthes mengatakan, langue tidak mungkin ada tanpa adanya parole begitu juga sebaliknya. Secara esensial, langue adalah suatu kontrak kolektif, siapa pun yang ingin menggunakannya untuk berkomunikasi harus tunduk sepenuhnya pada aturan-aturannya. Sedangkan parole, tindakan individual.
Kedua terma ini tidak akan memiliki pengertian yang penuh, jika berdiri sendiri. Langue tidak akan ada secara sempurna kecuali dalam “massa penutur”. Orang tidak bisa menyentuh suatu parole kecuali jika telah mengembalikannya ke dalam langue. Kurang lebih seperti itu gambaran dialektika langue dan parole yang di jalaskan Barthes.
Namun, apakah parole bisa nampak pada sebuah tulisan. Mungkinkah seorang dari daerah pantai, yang memiliki dialek keras, bisa terlihat dalam tulisannya. Dan, seorang Solo, apakah akan lembut juga dalam tulisan.
Tetapi sudah, sudah saya cukupkan sampai disini tentang langue dan parole. Karena, sebenarnya saya hanya ingin berbegi kebosanan membaca, khususnya narasi dan deskripsi panjang lebar.
Ditanggan saya sekarang ada dua buku, Negeri Senja milik Seno Gumira Ajidarma dan Franz Kafkah, metamorfhosis. Saat membaca Negeri Senja, saya sudah tidak tahan pada bab-bab awal. Seno terlalu bertele-tele menjelaskan Negeri Senja. Saya pikir semua orang tahu tentang sebentuk senja. Tapi kenapa samapi mengatakan “Negeri Senja cuam bayangan hitam tembok-tembok beku perbentengan yang tua. Banteng semacam itu sudah tidak ada artinya lagi sekarang, . . . Negeri Senja hanya tampak sebagai bayangan hitam karena di latar belakangnya tampak lempengan bola matahari….”
Franz Kafkah juga sama, dia sebenarnnya hanya mendiskripsikan seorang tokoh yang melihat jendela. Lalu kenapa samapai harus “Mata Gregor kemudian beralih  ke jendela, dan cuaca buruk -rintik hujan bisa terdengan menghajar logam berai jendela- membuatnya merasa sangat melankolis.”
Saya pikir ada nada sumbang, yang seharusnya tidak berada disana. Namun, pola seperti itu banyak kita temui dalam karya-karya fiksi. Belum saya temukan sebuah fiksi dengan nada konstan yang sama. hanya pada tulisan opini saya menemukan sebuah nada konstan yang menyenangkan. Tulisan milik Donny Gahral Adian, “Paling tidak ada dua narasi raksasa tentang asal-usul realitas. Pertama adalah narasi tentang agama-agama monoteis. Narasi yang berkisah tentang penciptaan alam semesta oleh Tuhan dari ketiadaan.”
Atau tulisan duo maut Tegalboto, Sigit Budhi dan Shaummil Hadi, dalam majalah Tegalboto Kritik Relasi Timur Barat, “Wiranggaleng mungkin tidak tahu, jahu di negeri Atas  Angin sana telah terjadi apa yang disebut Renaissance, sebuah fase kehendak tahu begitu tinggi, kejernihan baru, penyelidikan fenomena alam juga kemampuan manusia. Zaman ini sering disebut juga dengan zaman eksplorasi.”
Dengan nada konstan seperti itu, membuat pembaca lebih tahan  untuk menyelesaikannya. Lalu, apakah mungkin sebuah tulisan fiksi bisa memiliki nada konstan seperti itu?
Bagi kalian yang telah memilih untuk sendirian. Mengunci pintu dan jendela kamar. Menghabiskan puluhan buku. Menekuni lukisan dan tulisan. Akan ada waktu dimana kalian rindu bersosialisai. Bahkan deru sepeda motor pembalap liar cukup untuk memaksamu membuka jendela dan mengumpat. Begitu juga saya, sekarang saya hanya mengalami sebuah kebosanan untuk membaca diskripsi linier datar. Dan kesialan saya belum menemukan sebuah tulisan fiksi dengan nada yang konstan.
Akhirnya, saya meminta maaf pada kalian, karena tulisan ini hanya bicara tentang kesialan dan kebosanan saya.
Namun, sebuah kesialan dan bosan bisa membawa sebuah pengertian baru. Saya pikir, nada dalam tulisan fiksi berbeda dengan opini dan artikel popular. Sebab sebuah opini tidak perlu membangun dunia baru. Jadi wajar ketika Seno berteleh-telah tentang Negri Senjanya, karena dia ingin pembaca memahami bagiaman sebuah dunia baru yang dia bentuk dalam cahaya ke-jigga-an itu.
Ada lagi satu tulisan diskripsi linier menjijikan, yang membuat saya ingin membakar buku itu, adalah The Name Of Rose milik Umberto Eco. Dalam salah satu bab dia dengan kurang ajar, mendeskripsikan sebuah bangunan abad pertengahan dengan begitu detailnya. Dia menceritakan lukisan dinding satu persatu, bentuk sebuah bangunan dengan segalah hiasanya.Sampai-sampai dia tahu kapan seorang tokoh berhenti berjalan, dimana tempat yang pas untuk berdiskusi.
Namun dengan cara seperti itu, Eco ingin pembaca tahu bagimana sebuah dunia abad pertengahan yang dia bangung lagi. Jika kalian tidak sanggup menyelesaikannya, maka kalian tidak pantas untuk masuk kedalam dunia baru Eco. Lalu buku itu pun memilih pembacanya sendiri.[]

Boys



Mimpi bisa indah, terkadang juga menyedihkan. Malam ini, mimipi itu sedih. Dia datang memceritakan sebuah kisah kepergian. Perempuan itu datang dengan marah, tidak tahu apa sebabnya. Memohon untuk segera berpisah. Saya disana hanya mengiyakan.
Hari-hari menjadi menyenangkan. Saya meresa lebih muda, lebih segar, lebih percaya diri. Dan yang paling penting merasa bebas, bebas sebebas-bebasnya. Tidak perlu memikirkan perempuan, dan tidak ada perempuan yang memikirkan.  Saya bisa melakukan apapun. Hampir semua keingin dan kesenang bisa berjalan baik. Saya sempurna.
Tapi jangan melihat saat saya sendiri. Ketika ingin dan senang sudah menguap, dan sempurna hanya tinggal nama. Tidak ada ucapan selamat malam pengantar tidur. Tidak ada yang mengingatkan mandi dan makan. Benar-benar sendiri.
Lalu tangis pecah. Vodka, Tequila, Tia Maria, Margarita, Bloody Mary dan saudara-saudaranya menjadi teman paling menggoda. Membawah pada kesadaran. Tentang dia yang terdorong terlalu jauh, melewati batas-batas yang sudah ditentukan sebelumnya. Memaksanya mengerti tanpa dimengerti. Lalu rentetan penyesalan.
Untungnya semua hanya mimipi. Terbangun dengan wajah pucat berkeringan dingin. Mencari  telepon genggam, menghubungi dia, meminta bertemu.
Di malam lain, dia datang dengan sederhana. Kami duduk berhadapan. Wajahnya tersenyum, lalu berkata
                “sudah ya, saya sudah lelah”
                Sebenarnya saya ingin bilang “jangan,” tapi yang keluar, “silakan, ini hidupmu, ini perasaanmu.”
Lalu dia pergi. Memperlihatkan pungungnya. Garis merah dan putih terlihat dari baju, warna yang selalu menyenangkan di mata. Tapi saya tetap duduk, tidak bisa menangis, enggan untuk menahan. Serangkaian ingatan datang, memberi tawa. Dan saya tertawa, terus tertawa. Sambil berkahyal.
Saya akan berkata maaf, jika itu bisa merubah pikiranmu. Tapi, sudah terlambat, semua kata sudah mejadi buruk. Jadi saya mencoba tetawa, menutupinya dengan kebohongan. Menertawakannya, mereduksi kesedihan.
Saya akan bersujud dibawah kakimu. Dan meminta maaf. Tapi saya tahu ini sudah terlambat. Dan tidak ada yang bisa saya lakukan. Jadi saya mencoba tetawa, menutupinya dengan kebohongan. Menertawakannya, mereduksi kesedihan.
Saya akan memberitahumu, saya mencintaimu. Jika itu bisa membuatmu tetap berada disini. Tapi, tidak ada gunanya, kamu sudah bersiap untuk pergi. Maaf tidak tahu batas-batasmu. Maaf mendorongmu terlalu jahu. Tidak menghirukanmu. Saya tahu kamu butuh saya. Sekarang, saya akan berbuat apapun agar kamu bisa kembali. Tapi, saya hanya tertawa, hiding the tears in my eyes, cause boys don’t cry, boys don’t cry, boys don’t cry.[]